Keraton Djipang Jadwalkan Gelar Budaya di Jakarta

DSC00547

Blora – Yayasan Keraton Djipang bakal melaksakan gelar budaya untuk yang ke dua kalinya. Namun, pelaksanaannya akan ditempatkan di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia (TMII) Jakarta. Hal itu diungkapkan oleh Gusti Pangeran Raja Adipati (KGPRA) Arya Djipang II Barik Barliyan.

Pelaksanaan gelar budaya itu bakal dilaksanakan pada tanggal (10/8/2017) mendatang. “Ini kesempatan kita bisa masuk ke Jantung Ibu kota,” ujarnya saat berada di Desa Jipang belum lama ini.

Dia menyatakan, tidak akan ada kegiatan karnaval dalam pagelaran budaya yang akan dilaksanakan. “Kita ingin menunjukkan kebudayaan Djipang keppada masyarakat luas, terutama yang ada di Ibu kota,” ucapnya. 

Pagelaran tersebut, menurut rencana hanya dilaksanakan dalam waktu satu hari. Banyak generasi muda Keraton Djipang yang akan terlibat dalam perhelatan budaya itu. “Mereka berasal dari relawan  yang memang suka terhadap budaya, utama budaya Djipang,” tandasnya.

Dia menjelaskan, gelar budaya itu menjadi kesempatan bagi dirinya untuk mengumpulkan Raja dan Sultan se-Nusantara untuk ikut bergabung didalam pagelaran tersebut. “Kesempatan nanti,  bisa menjadi ajang silaturrahim antara raja-raja yang ada di Nusantara ini,” terangnya.

Menurutnya, keberadaan Keraton Djipang sudah diakui Nasional. Meskipun masih sebatas komunitas raja dan sultan, yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Sejak berdirinya Yayasan Keraton Djipang pada tahun 2014 lalu, kebangkitannya diatandai dengan gelar budaya yang dilakasanakan pada 2016 lalu di Kecamatan cepu, juga menghadirkan rasa dan sultan se-Nusantara serta para pejabat di Kementrian maupun para pengusaha dari Malaysia. Pada gelar budaya  juga dirangkai dengan pelantikan serta pemberian gelar pada warga Malaysia.

lebih lanjut dia menegaskan, bangkitnya kembali kerajaan yang pernah berjaya pada 15 abad lalu, menjadi catatan sejarah baru saat ini. Bukan berarti akan membuat sistem pemerintahan baru layaknya sebuah kerajaan. Namun lebih pada pelestarian budaya peninggalan lelulur. Kearifan lokal berupa tradisi dan budaya yang selama ini telah diwarisi oleh masyarakat Cepu.

“Tidak ada unsur politik. Ini murni untuk budaya, karena saya cinta Cepu. Pada pagelaran yang akan kami laksanakan semata-mata ingin menumbuhkan rasa cinta saja,” tandasnya.

Pihaknya berharap, agar pemerintah tidak melarang pelaku budaya untuk masuk ke Jipang. “Tolong kepada penguasa, untuk tidak melarang kita masuk ke Jipang,” pungkasnya. (*)

KONTEN MENARIK UNTUK ANDA

KONTEN PILIHAN UNTUK ANDA