Arsip Tag: sumur minyak tua

4000 Lebih Sumur Minyak Tua di Blora Diajukan Pemkab Blora ke Gubernur

KABARCEPU.ID – Pemerintah Kabupaten Blora (Pemkab Blora) telah mengajukan permohonan resmi kepada Gubernur Jawa Tengah terkait izin pengelolaan lebih dari 4.000 sumur minyak tua di Blora yang tersebar di berbagai desa di wilayah Kabupaten Blora.

Langkah ini mencerminkan upaya strategis Pemkab Blora untuk menata kembali aset energinya sekaligus menjamin keselamatan lingkungan dan masyarakat setempat terkait pengelolaan sumur minyak tua di Blora.

Menindaklanjuti keluarnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi, Pemkab Blora gerak cepat dengan menggelar rapat di Ruang Pertemuan Setda Blora, Selasa (12/8/2025).

Dipimpin langsung Bupati Blora Arief Rohman, rapat tersebut dilakukan untuk memfasilitasi dan membuka peluang ekonomi baru bagi warga terkait pengelolaan sumur minyak masyarakat yang tersebar di wilayah Kabupaten Blora, menindaklanjuti terbitnya Peraturan Menteri ESDM tersebut.

Di skemakan Pemkab Blora akan membuka pengelolaan sumur minyak masyarakat atau sumur minyak tua di Blora melalui tiga unsur pengelola yakni Blora Patra Energi (BUMD), Koperasi Blora Migas Energi (Koperasi), dan CV Mataram Connection (UMKM).

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Blora, Pujarianto, menyampaikan pihaknya telah melakukan verifikasi awal titik-titik sumur minyak tua di Blora yang akan diajukan ijin ke Gubernur Jawa Tengah.

Total terdapat 4.134 titik sumur minyak tua di 37 desa yang tersebar di 14 kecamatan yang masuk rekomendasi pengajuan untuk dapat dikelola oleh tiga unsur tersebut (BUMD), Koperasi dan UMKM.

“Setelah diajukan, nantinya akan dibentuk tim gabungan dari Kementerian ESDM, SKK Migas, Pertamina, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, dan aparat penegak hukum untuk verifikasi lapangan. Hasilnya akan dituangkan dalam berita acara sebagai dasar pemberian izin pengelolaan,” jelas Puji Ariyanto.

4000 Lebih Sumur Minyak Tua di Blora Diajukan Pemkab Blora

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blora Arief Rohman, menegaskan bahwa inisiatif ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja luas bagi masyarakat terkait pengelolaan sumur minyak tua di Blora.

“Kalau dari 4.000-an sumur yang kita ajukan, separuhnya disetujui, dan setiap sumur dikerjakan 10 orang, berarti akan ada ribuan tenaga kerja yang terserap. Ini tentu menjadi peluang besar bagi warga kita,” ungkap Bupati.

Terkait isu lingkungan, Bupati Blora Arief Rohman memastikan bahwa aspek kelestarian akan menjadi perhatian serius. “Tim gabungan nanti juga akan melibatkan unsur lingkungan hidup untuk menilai dampak pengelolaan sumur terhadap lingkungan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Blora yang akrab dipanggil Mas Arief itu mengajak seluruh unsur mulai dari Forkopimda, BUMD, Koperasi, UMKM, hingga pemerintah desa dan kecamatan untuk memperkuat koordinasi demi menjaga suasana tetap aman dan kondusif.

“Kami minta jajaran TNI/Polri, Danramil, Kapolsek, dan Kepala Desa mengawal proses ini. Semua pihak harus saling berkoordinasi, nanti kepala desa dengan pengelola dalam rangka untuk menjaga situasi tetap kondusif dan aman,” pesannya.

Pemkab Blora berharap, dengan sinergi semua pihak, pengelolaan sumur masyarakat tidak hanya mendukung peningkatan produksi migas, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan, berpihak pada masyarakat, dan tetap menjaga harmoni sosial di daerah.***

Sumur Minyak Tua Ledok dan Semanggi di Blora Masuk Tahap Finalisasi Perpanjangan Izin Kementerian ESDM

KABARCEPU.ID – Sumur minyak tua Ledok dan Semanggi yang memiliki nilai sejarah dan potensi ekonomi signifikan di wilayah Kabupaten Blora, dilaporkan telah memasuki tahap finalisasi perpanjangan izin operasional dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Perkembangan ini menjadi angin segar bagi kelanjutan aktivitas penambangan minyak tradisional yang telah berlangsung turun temurun di wilayah tersebut.

Pengelolaan aset warisan minyak bumi di wilayah Blora yaitu sumur minyak tua Ledok dan Semanggi, memiliki peran penting dalam sejarah industri perminyakan di Indonesia.

Aktivitas penambangan di wilayah ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda, dan hingga kini masih memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat setempat.

Namun, operasional sumur-sumur ini memerlukan izin resmi dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian ESDM, yang secara berkala perlu diperpanjang.

Proses perpanjangan izin operasional ini bukan tanpa tantangan. Peraturan perundang-undangan yang ketat, standar operasional keselamatan yang tinggi, serta komitmen terhadap pelestarian lingkungan menjadi faktor krusial yang harus dipenuhi oleh pengelola.

Aktivitas penambangan minyak tradisional di wilayah ini memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Generasi demi generasi, masyarakat setempat telah menggantungkan hidup mereka pada sumur-sumur minyak ini. Keberlanjutan operasional sumur minyak tua di Ledok dan Semanggi menjadi krusial untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian dan kearifan lokal masyarakat.

Dengan memasuki tahap finalisasi, diharapkan proses perpanjangan izin operasional sumur minyak tua Ledok dan Semanggi dapat segera diselesaikan dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh pihak yang terlibat.

Sumur Minyak Tua Ledok dan Semanggi di Blora Masuk Tahap Finalisasi Perpanjangan Izin

 

 

Bupati Blora, H. Arief Rohman mengemukakan, proses perpanjangan izin sumur tua di wilayah Ledok dan Semanggi masih dalam tahap finalisasi di Kementerian ESDM.

Hal itu dikemukakan Bupati, di acara Ngopi Bareng Forkopimda, di Aula Mapolres Blora, Senin (5/5/2025). Dikemukakan, pihaknya bersama jajaran Forkopimda akan terus mengawal proses tersebut.

“Untuk sumur Ledok dan Semanggi ini, proses finalisasi masih berlangsung di Kementerian ESDM. Kita akan usahakan Forkopimda bisa bersama-sama sowan ke Kementerian ESDM untuk mengawal langsung,” tandas Bupati.

Diketahui, di acara itu dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Blora, mulai dari Bupati Blora Arief Rohman, Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Setiawan, Dandim 0721/Blora, Letkol Inf Agung Cahyono, Ketua DPRD, Ketua Pengadilan Negeri Blora, perwakilan Kejaksaan Negeri, serta perwakilan dari Pengadilan Agama.

Turut hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Blora beserta sejumlah Kepala Perangkat Daerah. Dalam pertemuan ini, sejumlah isu strategis yang berkembang di masyarakat dibahas bersama.

Mulai dari perizinan sumur tua di Ledok dan Semanggi serta polemik penambangan Plantungan, maraknya kasus pencurian (curanmor), hingga tingginya angka kasus bunuh diri di Kabupaten Blora.

Terkait kegiatan penambangan di wilayah Plantungan yang belum memiliki legalitas, Ketua Pengadilan Negeri Blora, Nunung Kristiyani menyebut aktivitas tersebut illegal dan berpotensi memberikan dampak lingkungan yang serius.

“Ini sudah sangat jelas ilegal karena tidak ada legalitasnya. Dampak lingkungannya sangat besar, bahkan menurut ahli lingkungan bisa lebih besar daripada dampak tindak pidana korupsi. Yang merasakan dampaknya nanti adalah anak cucu kita,” tegasnya.***

Komisi B DPRD Blora, Siswanto: Pertamina Harus Menegur Kvell Terkait Ganti Rugi Petani

KABARCEPU.ID – Anggota Komisi B DPRD Blora, Siswanto angkat bicara terkait Kvell Blora Energi yang belum merealisasi ganti rugi petani terdampak semburan gas dan minyak dari sumur tua Kedinding.

Menurut Siswanto, Kvell harus bertanggungjawab karena sebagai pengelola dan harus segera mengerjakan. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Bagaimana pun Kvell harus bertanggung jawab untuk mengganti masyarakat yang dirugikan. Pertamina sendiri harus menegur Kvell. Karena sudah diberikan pengelolaan, mestinya harus segera ditindaklanjuti,” ujar Siswanto, Senin (24/2/2025).

Diketahui sudah seminggu lebih sejak terjadinya semburan, KSO Kvell Blora Energi selaku pengelola sumur tua Kedinding, belum memberikan ganti rugi kepada petani terdampak.

Sepuluh warga terdampak semburan minyak sumur tua blok Kedinding yakni:
1. Sarpan Rt 01/4
2. Jasman Rt 01/4
3. Sukar pak yanti Rt 5/4
4. Tono pak kikis Rt 02/4
5. Sutaji Rt 03/4
6. Rusdi Rt 03/4
7. Kasran Rt 01/4
8. Suradi Rt 07/4
9. Januri Rt 01/4
10. Lastiono Rt 04/4

Diketahui semburan gas bercampur lumpur dan air setinggi 1 meter terjadi di sumur Kedinding 10 Wilayah Kerja Pertambangan Pertamina EP-KSO K-Vell Blora Energi. Material semburan pun mengalir ke Sungai Kedinding yang menuju ke Kali Sogo yang berada di jalur provinsi Cepu-Randublatung.

Peristiwa tersebut diketahui warga sekitar lokasi, pada Kamis (13/2/2025) sekitar pukul 07.30 WIB. Pada Kamis (13/2/2025) sekitar pukul 22.15 WIB, sumur lain yang terletak sekitar 50 meter dari semburan awal, mengeluarkan semburan minyak mentah atau lanthung. Material semburan pun mengalir ke sungai dan merusak tanaman jjagung dan pisang ilik warga.***

Sumur Minyak Tua di Kedinding Blora Sudah 3 Kali Keluarkan Semburan

KABARCEPU.ID – Semburan minyak, gas bercampur air dan lumpur di sumur minyak tua di Kedinding Blora yang dikelola KSO Kvell Blora Energi terjadi bukan hanya kali ini saja.

Sebelumnya peristiwa semburan di sumur minyak tua di lapangan Kedinding 10, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, juga pernah terjadi pada tahun 2014 silam.

“Setahu saya, peristiwa tersebut sudah 3 kali. Bahkan saat Aceh tsumami 2004, sumur ini juga kontak,” ujar Yanto warga Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Jumat (14/2/2025).

Yanto yang berusia 36 tahun tersebut menceritakan, sebelumnya sumur yang mengeluarkan semburan pada Kamis (13/2/2025) pukul 22.15 wib tersebut, pernah dibor oleh warga untuk mencari sumber air. Dan ternyata yang keluar malah minyak.

” Dulu dibor untuk mencari air. Ternyata yang keluar malah minyak dan kemudian ditutup,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, semburan gas bercampur lumpur dan air setinggi 1 meter terjadi di sumur Kedinding 10 Wilayah Kerja Pertambangan Pertamina EP-KSO K-Vell Blora Energi.

Material semburan pun mengalir deras ke Sungai Kedinding yang menuju ke Kali Sogo yang berada di jalur provinsi Cepu-Randublatung. Peristiwa tersebut diketahui warga sekitar lokasi, pada Kamis (13/2/2025) sekitar pukul 07.30 WIB.

Pada Kamis (13/2/2025) sekitar pukul 22.15 WIB, sumur lain yang terletak sekitar 50 meter dari semburan awal, mengeluarkan semburan minyak mentah atau lanthung. Material semburan pun mengalir ke sungai dan merusak tanaman jagung milik warga.

Pihak Pertamina EP Field Cepu Zona 11, Satpol PP, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup Blora dan Polsek Kedungtuban yang mengecek lokasi semburan pun segera memasang garis polisi.

Saat ini petugas dari Kvell Blora Energi sedang melakukan pencegahan dengan sistem sifon untuk memisahkan air dan minyak yang mengalir ke sungai.***

Semburan Gas dan Minyak di Sumur Minyak Tua Kedinding Blora Timbulkan Berkah dan Musibah Warga

KABARCEPU.IDSumur minyak tua Kedinding Blora kembali mengejutkan warga sekitar lokasi, kali ini mengeluarkan semburan gas bercampur minyak mentah (lanthung).

Warga Dukuh Kedinding, Desa Ngraho Kecamatan, Kedungtuban, Kabupaten Blora, kembali dikejutkan dengan semburan ketiga dari sumur minyak tua di Lapangan Kedinding.

Sebelumnya semburan pertama dan kedua di sumur tua Kedinding 10 hanya mengeluarkan gas, air dan lumpur.

Namun semburan ketiga ini, mengeluarkan minyak mentah (lanthung) yang jaraknya hanya berkisar 50 meter dari semburan awal.

Semburan ketiga tersebut terjadi pada Kamis (13/2/2025) sekira pukul 22.15 wib. Akibatnya, minyak pun mengalir ke sungai yang tidak jauh dari lokasi.

Salah satu warga Yanto (36 th) warga Dukuh Kedinding mengungkapkan, dirinya mengumpulkan minyak yang mengalir ke sungai dengan cara di bendung menggunakan pohon pisang.

Selanjutnya, Yanto menambang minyak tersebut diambil dengan menggunakan kain dan kemudian dimasukkan ke jerigen kapasitas 35 liter.

“Sejak jam 9 pagi sampai jam 11 tadi sudah dapat 3 jeriken. Tadi ada yang telepon saya, mau dibeli. Satu jeriken dihargai 200 ribu, ” ujar Yanto saat ditemui wartawan di sungai, Jumat (14/2/2025).

Sumur Minyak Tua Kedinding Blora Timbulkan Berkah dan Musibah Warga

Berbeda dengan Yanto yang mendapat berkah dari semburan. Rusdi salah satu petani warga Kedinding mengalami kerugian akibat semburan tersebut.

Ladang jagung miliknya yang ditanam di lahan Perhutani seluas 2.500 meter persegi yang berusia sebulan terancam mati karena imbas dari semburan.

“Kerugian kurang lebih 1,5 juta. Tanaman saya ini, bibitnya habis 5 kg. Tenaga sehari 70 ribu, 140 ribu biaya tanam, belum tenaga gejik minimal 2 orang bekerja 2 hari, habis 150 ribu. Belum termasuk makannya. Kalau pupuk habis 1,5 kwintal. Itu pun per kwintal 500 ribu karena beli dari orang lain. Karena tidak dapat jatah pupuk subsidi,” ucap Rusdi.

“Kalau mau diganti rugi terserah situ, saya hanya petani cilik biasa. Diganti atau tidak saya tidak berharap besar. Kalau memang ada ganti saya terima kalau gak ada ya gak apa-apa. Saya hanya rakyat kecil biasa,” imbuh Rusdi.

Selain Rusdi, petani lain yaitu Puji, Jas dan Sarpan juga mengalami kerugian lantaran tanaman jagung miliknya yang berusia 3 minggu juga terancam mati.

Diketahui sumur tua tersebut berada di WKP Pertamina EP-KSO K-Vell Blora Energi. Berdasarkan pantauan dilokasi, beberapa pekerja melakukan lokalisir ke sungai dengan sistem sifon untuk memisahkan air dan minyak.***

Semburan Minyak Kembali Muncul di Lapangan Kedinding Blora, Kali Ini Minyak Mentah Bercampur Air

KABARCEPU.ID – Kembali muncul semburan minyak bercampur air dari titik sumur lain di Lapangan Kedinding Blora, Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) KSO Pertamina EP – Kvell Blora Energi, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Titik semburan ini berjarak 50 meter dari lokasi sebelumnya, semburan minyak lumpur bercampur air dan gas. Material semburan berupa minyak bercampur air ini, meluber hingga mencemari lahan garapan petani hutan.

Anggota Kelompok Penambang Minyak Sumur Tua, Hadi, menyampaikan, semburan sumur itu terjadi saat malam hari. “Saya diberitahu Kepala Desa Ngraho. Akhirnya saya langsung ke lokasi,” ujar Had, Jumat 14 Februari 2025.

Menurutnya, semburan sempat berhenti. Namun pada pagi hari, sumur kembali menyemburkan material air bercampur minyak. “Kami membantu melokalisir dulu. Saya dan teman-teman mengumpulkan minyak,” ungkapnya.

Semburan Minyak Kembali Muncul di Lapangan Kedinding Blora

Selain ditampung dalam bul, minyak bercampur air dialirkan menggunakan pipa menuju penampungan minyak mentah dilokasi setempat. “Kalau ditampung seperti akan lebih aman. Karena tidak langsung mengalir ke kali,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora, Istadi Rusmanto menyampaikan, langsung terjun ke lokasi untuk memantau kondisi lingkungan yang berada di sekitar semburan minyak tersebut.

Dia melihat dan memantau kondisi air yang di hulu masih bagus, sebagian ada film-film yang perlu ditangani. “Tapi saya melihat sudah dikasih oil boom untuk menangkap film-film minyak, harapannya film-film minyak enggak sampai ke sungai,” ujarnya kepada wartawan di lokasi semburan.

Istadi berharap, kejadian tersebut segera dapat ditangani oleh instansi yang berkepentingan. “Untuk sumur yang satu kemarin menyembur sekarang sudah reda, pindah lokasi, sifatnya ini tekanan otomatis dia mencari ruang-ruang udara,” jelas dia.***

Sumur Minyak Tua di Blora Semburkan Lumpur Bercampur Minyak

KABARCEPU.ID – Lumpur bercampur air dan gas, menyembur dari sumur minyak tua di lapangan Kedinding Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Blora, Kamis pagi, 13 Februari 2025.

Dari sejumlah video yang diterima waratawan, semburan tersebut mampu membuat rongga cukup besar dan membuat tanah di sekitar sumur longsor. Tampak, dua semburan saling berdekatan.

Menurut warga Dukuh Kedinding RT 6 RW 4 Desa Ngraho, Sukirno, yang mengaku sebagai perekam kejadian tersebut mengaku tidak tahu persis waktu terjadi. “Tahunya saya, tadi jam setengah delapan (7.30 WIB). Ada informasi dari warga, langsung saya menuju lokasi semburan,” kata dia.

Bau lantung (minyak mentah), kata dia, tercium hingga SMP Negeri 1 Kedungtuban, yang berada di desa setempat. Air bercampur lumpur dan minyak itu mengalir sepanjang Kali Kedinding hingga Kali Sogo, yang tidak jauh dari lokasi.

Informasi dihimpun, semburan tersebut berada di titik sumur 10. Berada di kawasan hutan KPH Cepu. Merupakan sumur minyak tua yang berada di Lapangan Kedinding. Saat ini, adalah Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) KSO Pertamina EP – Kvell Blora Energi.

Sumur Minyak Tua di Blora Semburkan Lumpur

Pantauan di lapangan, lumpur bercampur air dan minyak berwarna pekat mengalir hingga menggenangi lahan pertanian hutan yang digarap warga. Hingga sore menjelang petang, belum ada upaya dari penanggaung jawab lapangan untuk melokalisir aliran.

Garis polisi dipasang berjarak kurang lebih 100 meter dari lokasi semburan. Aroma menyengat khas minyak mentah dan gas tercium.

Sementara itu Waka Administratur Perhutani KPH Cepu Lukman saat ditemui di lokasi semburan menjelaskan, pihaknya dapat informasi dari masyarakat bahwa di petak 68L RPH Ngasahan BKPH Kendilan KPH Cepu, terjadi semburan lumpur bercampur minyak dan gas.

Pihaknya mengaku, baru mendapay informasi pada pukul 13.00 WIB. Koordinasi telah dilakukan dengan tim Pertamina dan Polres Blora.

“Setelah di cek ternyata memang berada di lokasi Pertamina, yang dulu pernah di bor sekarang menjadi bocor dan akan ditangani oleh Pertamina,” katanya.***

Jejak Kolonial di Blora, Cerita Minyak Bumi di Desa Ledok

KABARCEPU.ID – Desa Ledok Kecamatan Sambong Kebupaten Blora Jawa Tengah, terkenal dengan potensi minyak bumi.

Jauh sebelum sekarang ini, manfaat keberadaan minyak bumi belum dirasakan secara signifikan oleh masyarakat.

Masyarakat baru merasakan keberaan minyak bumi, setelah dikelola warga secara tradisional.

Warga mengangkat minyak bumi dari dalam sumur minyak tua peninggalan kolonial belanda yang selama ini terbengkelai.

Sumur minyak tua peninggalan belanda itu, sekarang ini, dikelola secara tradisional oleh masyarakat dan sedikit demi sedikit nasib mereka mulai berubah.

Dengan pengelolaan yang tepat, minyak bumi telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga setempat, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mendorong pembangunan infrastruktur desa.

Hasil dari pengelolaan minyak bumi tidak hanya dinikmati dalam bentuk materi, kini memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum lainnya.

Minyak bumi telah Mengalir memenuhi kantong perekonomian warga di pinggir hutan Desa Ledok Kecamatan Sambong, yang berada di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP Field Cepu Zona 11.

Keberadaan sumur-sumur minyak tua ini menjadi bagian dari harapan masyarakat.

Ditambang dan dikelola secara tradisional. Lalu hasilnya disetorkan ke Pertamina EP Field Cepu Zona 11.

Selama bertahun-tahun, emas hitam ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Harapan kami bisa berdampak untuk kita semua. Baik masyarakat penambang maupun desa,” ujar Ketua Ketua Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba (PPMST) Ledok, Daryanto pada suatu kesempatan.

Selama bertahun – tahun menaungi penambang, PPMSTL telah merealisasikan berbagai macam kegiatan untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.

“Itu merupakan hasil dari hasil pendapatan para penambang yang disisihkan. Minangkani ngresiki bandane penambang (bagian dari membersihkan harta penambang),” ungkapnya.

Ada sekitar 731 orang penambang yang tergabung dalam PPMST yang mengelola 127 titik sumur minyak tua dari 196 titik yang tersebar di pedalaman hutan Ledoak.

“Rata-rata minyak mentah dihasilkan sebanyak 31 ton,” ujarnya.

Adapun program yang telah terlaksana diantaranya, santunan anak yatim dan kaluarga kurang mampu, sosial, budaya, olahraga, pendidikan, keagamaan, dan sarana prasarana.

“Memang kalau sarana dan prasarana ini belum maksimal. Namun, tetap bergulir. Kita berjalan terus,” kata dia.

Daryanto mencontohkan, belum lama ini penambang juga mengadakan turnamen sepak bola yang mengundang tim dari luar.

“Karena prinsipnya, dari penambang, oleh penambang dan untuk penambang,” ujarnya.

Sementara itu, setiap bulan pihaknya rutin memberikan santunan. Selain itu, juga memberikan bantuan operasional untuk lebaga Pendikan Anah Usia Dini (PAUD).

“Baik TK maupun Kelompok Bermain, serta Madrasah. Kalau SD tidak, karena sudah ada Dana BOS,” ungkapnya.

Baru-baru ini, PPMSTL juga memberikan beasiwa kuliah untuk 3 orang warga Desa Ledok untuk melanjutkan pedidikan ke perguruan tinggi. Hal ini dalam rangka ikut mendukung peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Beasiswa ini diberikan secara penuh, mulai dari dari awal sampai sarjana. Niatan kita untuk meningkatkan sumber daya manusia,” tandasnya.

Pemberian beasiswa ini, tidak terbatas kepada kurang mampu saja. “Meskipun awalnya sasaran awal kita dari keluarga kurang mampu,” jelasnya.

“Kalau kita masih berdiri tegak dan masih melakukan pengeloaan, kita lanjutkan program ini,” tambah pria yang akrab disapa Mas Dar ini.

Sementara itu, Kepala Desa Ledok Sri Lestari, tidak menampik adanya dampak positif penambangan sumur minyak tua di wilayahnya.

Dia mengaku, baik desa maupun masyarakat banyak terbantu dan bisa ikut menikmati hasilnya.

“Pun demikian, membuka lapangan pekerjaan bagi warga. Bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Lebih dari dari itu, dirinya sangat bersukur dengan adanya beasiswa yang disalurkan oleh PPMSTL.

“Semua mereka yang tidak ada biasa untuk melanjutkan pendidikan, akhirnya bisa ikut kuliah. Sehingga ada peningkatan SDM. Ini sangat membantu,” ungkanya. ***