KABARCEPU.ID – Tidak banyak bicara, lebih nyaman berada di lingkungan pesantren, tetapi memiliki keberanian menghadapi soal-soal Matematika yang sulit.
Sosok itu adalah Royyan Aska Ahsana, santri Pondok Pesantren Al-Ittihad Cepu yang berhasil lolos babak penyisihan Olimpiade Matematika Nasional (OMN) 2026.
Kompetisi ini berlangsung pada 6 September 2026. Keberhasilan tersebut mengantarkan Royyan ke babak grand final yang kini siap dihadapinya.
Bagi Royyan, lolos ke grand final bukan sekadar pencapaian. Kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk kembali menguji kemampuan sekaligus menghadapi tantangan yang lebih berat.
Royyan mengakui soal-soal yang dihadapi saat babak penyisihan tergolong lumayan sulit. Namun, bukannya mundur, kesulitan itu justru membuatnya semakin tertantang.
“Lumayan sulit, tetapi saya tetap menyukai Matematika karena menjadi tantangan,” ujar santri yang sekaligus menimba ilmu di SMP Negeri 4 Cepu ini.
Ketertarikan anak kelahiran 10 Februari 2014 ini terhadap Matematika bukan sesuatu yang baru muncul ketika mengikuti olimpiade. Ia mulai menyukai pelajaran tersebut sejak duduk di Kelas V SD.
Sejak saat itu, rumus dan soal Matematika menjadi sesuatu yang menarik baginya. Royyan menikmati proses berpikir untuk menemukan jawaban, terutama ketika berhasil menuntaskan soal yang awalnya dianggap sulit.
Pendiam, tetapi punya ketertarikan kuat pada tantangan. Begitulah karakter putra pasangan Sukarno dan Anis Munfaida ini yang dikenal di lingkungan sekitarnya.
Di luar sekolah, Royyan kini juga tengah mendalami agama Islam. Keinginan memperdalam ilmu agama tersebut membuatnya lebih memilih untuk mukim di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cepu.
Kehidupan sebagai santri membuat Royyan menjalani aktivitas pendidikan umum sekaligus pendidikan agama. Ia harus mampu membagi waktu antara kegiatan pesantren, belajar di sekolah, dan persiapan menghadapi kompetisi Matematika.
Dari Dukuh Judan, Desa Jipang, Kecamatan Cepu, anak kedua dari dua bersaudara ini kini membawa tantangan baru ke babak grand final OMN 2026.
Meski bercita-cita menjadi seorang pengusaha, kecintaannya terhadap Matematika tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.
Kemampuan berpikir logis dan keberanian menghadapi persoalan sulit menjadi pengalaman yang diyakininya akan berguna untuk masa depan. Kini, babak penyisihan telah dilewati. Tantangan yang lebih besar menanti di grand final.
Royyan mungkin dikenal sebagai anak pendiam. Tetapi di balik sikap tenangnya, tersimpan keberanian untuk berhadapan dengan angka, rumus, dan soal-soal sulit. Grand final OMN 2026 menjadi panggung berikutnya bagi Royyan untuk kembali menguji kemampuannya.*























