KABARCEPU.ID – TPQ di bulan Ramadhan tahun 2017 ini digelar di komplek makam Gedong Ageng Arya Djipang Desa Jipang, Cepu, Jawa Tengah.
Setiap sore, komplek makam tampak ramai dengan anak mengaji dengan dipandu empat orang guru ngaji bertempat di Pendopo makam setempat yang juga digunakan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).
Menurut Eko Prastio, perangkat desa sekaligus guru ngaji Desa Jipang, TPQ tersebut masuk bulan ke-dua di bulan Ramadhan ini. Ada puluhan anak d belajar mengaji ilmu agama di TPQ itu.
“Selain baca tulis Al-Qur’an, juga ada hafalan serta meneladani kisah Rasul dan para pendahulu,” ujarnya akhir Mei lalu.
Dia menjelaskan, butuh waktu cukup lama mengajak anak-anak setempat untuk belajar mengaji. “Memang butuh perjuangan,” jelasnya.
Awalnya, kata Eko, tempat ini (red-Pendopo), hanya sekadar digunakan para orang tua. “Baik pengajian para Bapak maupun jama’ah tahlil para Ibu,” ujarnya.
Dari situ, dirinya secara perlahan mulai mengajak para orang tua untuk mengarahkan anaknya supaya ikut mengaji.
“Alhamdulillah, saat ini banyak anak, yang tertarik untuk belajar mengaji di TPQ ini. Harapan kami, pendidikan ilmu agama  ini terus berjalan,” terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan berjalannya kegiatan TPQ tersebut, sekaligus mengurangi kesan mistis negatif di komplek makam Arya Djipang.
Pasalnya, selama ini ada kesan jika orang datang ke makam ini mempunyai hajat tertentu.
Di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah terdapat dua makam yang dianggap sakral bagi kebanyakan orang.
Sehingga banyak warga dari luar daerah yang melakukan ziarah kubur pada kedua makam itu.
Adalah makam Gedong Ageng Arya Djipang serta makam santri songo, yang terletak agak berjauhan.
Saat bulan puasa seperti saat ini, menurut dia, sebenarnya orang tidak boleh memasuki makam Arya Djipang. Karena kebanyakan mereka yang datang memiliki kenginan tertentu.
Kedatangan mereka di makam tersebut, melakukan ziarah dbarengi dengan barengi dengan ritual kejawen. Berbeda dengan makam santri songo.
“Kalau di makam santri songgo lebih banyak ritual keagamaan,” ujarnya.
Tarno, tokoh masyarakat setempat, menyatakan, makam Arya DJipang dan makam Santri Songo selama Ramadhan ini tidak banyak pengunjung.
Namun, pada saat puasa seperti ini pada malam tertentu banyak warga dari luar desa yang berdatangan melakukan ziarah kubur.
“Kalau yang di santri songo itu biasanya jamaah Ibu-ibu,” pungkasnya.***