3 Taman di Cepu Ada Wifi Gratis

KABARCEPU.ID – Masyarakat Cepu, Jawa Tengah, saat ini bisa menikmati Wifi gratis di tiga taman di Cepu yang tersebar diantaranya, Taman Pemuda, Taman Djatikusumodan Taman Tuk Buntung.

Tahun 2017 ini, Dinas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Blora, memasang wifi grasti di 11 titik se-Kabupaten Blora, tiga titik diantaranya berada di Cepu.

Menurut Sugiyono,  Kepala Dinas Kominfo Blora, masyarakat yang ingin menikmati cukup mendekat di tempat-tempat itu. Masyrakat juga tidak perlu mengunakan pasword. Karena ketika mendekat akan otomatis menyambung.

Keberadaaan Wifi gratis ini menurut Sugi, sapaan akrabnya, adalah untuk memberikan kemudahan kepada masyrakat untuk mendapatkan jaringan internet gratis.

Selain itu, juga dengan wifi ini bisa menjadi alternatif  bagi mereka yang belum bisa memasang internet di rumahnya. Sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyrakat.

Lebih lanjut Sugi menjelaskan, dengan dipasanganya wifi ini harapannya bisa dimanfaatkan bagi pelajar untuk mengerjakan soal atau masyrakat untuk melakukan kelancaran bagi bisnis mereka.

Tetapi Kominfo juga tidak menutup kemungkinan terkait bahayanya untuk digunakan mengakses konten yang tidak seharusnya.  “oleh sebab itu kami tetap akan melakukan pengawasan,” tuturnya.***

Lapter Ngloram Segera Aktif

KABARCEPU.ID – Lapter Ngloram atau Lapangan terbang Ngloram, Cepu, Jawa Tengah, dikabarkan telah diserahterimakan dari Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Kementrian Perhubungan (Kemenhub), untuk dilakukan reaktivasi.

“Informasi yang kami terima, lapangan Ngloram sudah dilakukan serahterima. Hanya saja, kami belum tahu berita acaranya,” kata Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub), Syamsul Arif.

Menurutnya,  pengaktifan kembali lapter Ngloram untuk menjadi bandar udara (bandara) telah memperolah signal positif untuk dilakukan reaktivasi. Yang nantinya akan dikelola oleh Kemenhub.

“Kami masih menunggu signal tersebut benar-benar positif. Sehingga kami bisa mengambil langkah awal pemberian dukungan, termasuk dalam dukungan sarana pendukung,” ujarnya.

Dalam rencana pengaktifan kembali lapter tersebut, kata dia, masih menunggu hasil kajian teknis dari kementrian.

“Apakah nanti digunakan untuk bandara khusus latihan atau bandara umum,” tuturnya. Sementara, saat ini ruang udara masih dalam wilayah Pangkalan TNI AU Iswahyudi Madiun. “Ini yang mungkin agak sulit dan perlu adanya komunikasi,” kata dia.

Direncanakan, pihak kementrian akan melakukan survey lapangan dan melakukan kajian teknis. “Untuk jadwalnya kami belum tahu,” tuturnya, saat berbincang di ruangannya belum lama ini.

Lebih lanjut dia menyatakan, bahwa kementrian lebih condong untuk melakukan reaktivasi lapter Ngloram dibanding pembangunan bandara di wilyah Bojonegoro Jawa Timur. “Karena lapter Ngloram sendiri, statusnya masih aktif,” pungkasnya.***

200 Orang Gober Komunitas PCC

KABARCEPU.ID – Komunitas PCC (Padangan Cycle Community) ikuti gowes bareng 200 orang dari 26 komunitas pesepeda dengan start-finish di Warong Angin Senja Mentul, Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah.

Menurut Rangga Winata, ketua pelaksana dari komunitas PCC, gober tersebut adalah kali kedua megadadakan gober tersebut menyusuri kawasan hutan Ledok Kecamatan Sambong dengan panjang rute kurang lebih mencapai 25 km.

“Sengaja kami pilih Ledok, untuk megeksplor wisata alam di Ledok. Mengenalkan potensi wisata kedungpupur terutama, penambangan tradisional di wilayah itu,” jelasnya usai bersepeda bareng peserta lain, Minggu (9/7/2017).

Dia melihat, peserta sangat antusias mengikutinya dan lebih meriah dibanding event yang dia lakukan tahun sebelumnya.

“Itu bisa dilihat dari jumlah peserta dan medan yang cukup menarik. Karena ini event tahunan, kami berharap untuk tahun kedepannya lebih baik lagi,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, event itu sekaligus sebagai ajang silaturrahim antara komunitas yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Mempertemukan  berbagai komunitas di sekitar Cepu dan Bojonegoro,” tuturnya.

Untuk diketahui, peserta berasal dari Jawa Timur diantaranya dari, Kabupaten Tulungagung, Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Lamongan, dan Jombang. Sedangkan dari Jawa Tengah, hanya diwakili dari Kabupaten Blora.***

Kades Kentong Belum Pikirkan Pendirian BUMDes

KABARCEPU.ID –  Meskipun pemerintah gencar mengkapanyekan pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), namun tidak semua desa menyambut dengan baik program pemerintah tersebut.

Terbukti, hingga saat ini masih ada desa yang justru belum memikirkan pendirian Badan Usaha Milik Desa, satu diantaranya Desa Kentong, Cepu, Jawa Tengah.

Sunaryo, Kepala Desa Kentong, mengaku belum ada rencana dan belum terpikirkan untuk melakukan pendirian BUMDes, meskipun dirinya sudah tahu program pemerintah tersebut. Hal itu disebabkan, pihaknya masih bingung untuk menentukan bidang usaha yang akan dijalankan jika BUMDes berdiri.

“Kami belum memikirkan untuk mendirikan BUMDes. Karena tidak mungkin hal itu dipikirkan seorang diri,” katanya, belum lama ini.

Dia mengungkapkan, di Desa Kentong masih banyak perangkat yang kosong. Sehingga dia mengaku berat jika harus memikirkan pendirian BUMDes. “Hanya ada Kamituo 2 orang, Kaur umum yang sebentar lagi purna, Sekdes PNS, serta saya sendiri. Seharusnya, idealnya ada 10 perangkat termasuk saya ,” ujarnya.

Kondisi tersebut yang menjadi salah satu kendala dirinya tidak segera mendirikan BUMDes. “Mungkin setelah pengisian perangkat, bisa dipikirkan kembali,” jelasnya.

Kendala lain yang menjadi ganjalan untuk mendirikan BUMDes, lanjut dia, adalah modal yang harus dikeluarkan. “Dana Desa sendiri masih kami fokuskan untuk perbaikan infrastruktur. Untuk tahun ini kira-kira Dana Desa untuk kentong hanya sekitar Rp700 juta. Karena dalam pembentukan dan menjalankannya sendiri butuh modal yang cukup besar. Nanti setelah infrastruktur sudah tertata, BUMDes bisa menyusul,” terangnya.

Dan tentunya, lanjut dia, butuh orang yang tangguh dalam mengelolanya. “Butuh orang-orang yang serius supaya BUMDes bisa berjalan,” tandasnya.

Di Desanya menyimpan potensi yang bisa  dikembangkan untuk dikelola. Diantaranya, Potensi Pertanian dengan luas kira-kira 200 hektar, kerajinan Kaligrafi yang sudah memiliki segmentasi pasar, serta distribusi air bersih yang telah memiliki banyak pelanggan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk pertanian di Kentong masih mengandalkan padi sebagai produk utama pertanian. “Rata-rata perhektar sekali panen bisa mencapai 8 ton. Itu jika dalam kondisi normal dan tidak terserang hama dan penyakit yang mengakibatkan penurunan produksi,” jelasnya.

Namun demikian, petani masih menggantungkan pada tengkulak. Sehingga harga tidak bisa setabil dan cenderung dipermainkan pasar. “Dari bulog sendiri juga tidak terlihat melakukan penyerapan produksi petani di sini,” terangnya.

Ada kemungkinan hasil petani bisa ter-cover, jika Bulog nanti bekerjasama dengan BUMDes untuk melakukan serapan gabah petani. “Karena tidak mungkin BUMDes bekerja sendiri, karena butuh fasilitas lengkap, mulai dari pengeringan gabah hingga produksi beras sampai pengemasan,” paparnya. Dia menambahkan, jika warganya seakan tidak mau tahu degan adanya program pendirian badan usaha.***

TPQ Kurangi Mistis Negatif

KABARCEPU.ID – TPQ di bulan Ramadhan tahun 2017 ini digelar di komplek makam Gedong Ageng Arya Djipang Desa Jipang, Cepu, Jawa Tengah.

Setiap sore, komplek makam tampak ramai dengan anak mengaji dengan dipandu empat orang guru ngaji bertempat di Pendopo makam setempat yang juga digunakan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Menurut Eko Prastio, perangkat desa sekaligus guru ngaji Desa Jipang, TPQ tersebut masuk bulan ke-dua di bulan Ramadhan ini. Ada puluhan anak d belajar mengaji ilmu agama di TPQ itu.

“Selain baca tulis Al-Qur’an, juga ada hafalan serta meneladani kisah Rasul dan para pendahulu,” ujarnya akhir Mei lalu.

Dia menjelaskan, butuh waktu cukup lama mengajak anak-anak setempat untuk belajar mengaji. “Memang butuh perjuangan,” jelasnya.

Awalnya, kata Eko, tempat ini (red-Pendopo), hanya sekadar digunakan para orang tua. “Baik pengajian para Bapak maupun jama’ah tahlil para Ibu,” ujarnya.

Dari situ, dirinya secara perlahan mulai mengajak para orang tua untuk mengarahkan anaknya supaya ikut mengaji.

“Alhamdulillah, saat ini banyak anak, yang tertarik untuk belajar mengaji di TPQ ini. Harapan kami, pendidikan ilmu agama  ini terus berjalan,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan berjalannya kegiatan TPQ tersebut, sekaligus mengurangi kesan mistis negatif di komplek makam Arya Djipang.

Pasalnya, selama ini ada kesan jika orang datang ke makam ini mempunyai hajat tertentu.

Di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah terdapat dua makam yang dianggap sakral bagi kebanyakan orang.

Sehingga banyak warga dari luar daerah yang melakukan ziarah kubur pada kedua makam itu.

Adalah makam Gedong Ageng Arya Djipang serta makam santri songo, yang terletak agak berjauhan.

Saat bulan puasa seperti saat ini, menurut dia, sebenarnya orang tidak boleh memasuki makam Arya Djipang. Karena kebanyakan mereka yang datang memiliki kenginan tertentu.

Kedatangan mereka di makam tersebut, melakukan ziarah dbarengi dengan barengi dengan ritual kejawen. Berbeda dengan makam santri songo.

“Kalau di makam santri songgo lebih banyak ritual keagamaan,” ujarnya.

Tarno, tokoh masyarakat setempat, menyatakan, makam Arya DJipang dan makam Santri Songo selama Ramadhan ini tidak banyak pengunjung.

Namun, pada saat puasa seperti ini pada malam tertentu banyak warga dari luar desa yang berdatangan melakukan ziarah kubur.

“Kalau yang di santri songo itu biasanya jamaah Ibu-ibu,” pungkasnya.***

Terminal Cepu Libatkan Warga Sekitar

KABARCEPU.ID – Sebanyak 12 orang dari wilayah Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah, direkrut menjadi tenaga kontrak pada Terminal Cepu.

Perihal perekrutan tenaga kontrak pada Terminal Tipe A Cepu itu diungkapkan oleh Agus Warih Sungkowo, Kepala Terminal Cepu, Jawa Tengah.

Dia menjelaskan, sejumlah orang tersebut menempati beberapa posisi. “Tenaga kebersihan, Tenaga Keamanan, serta Tenaga Pramubakti. Keberadaan mereka memang sangat diperlukan oleh Terminal,” terangnya.

Menurutnya, mereka sangat membantu meringankan pekerjaan, terlebih saat ini terminal buka selama 24 jam. Dibagi menjadi 3 sift. Mereka bertugas mencatat  kendaraan yang keluar masuk terminal beserta jumlah penumpang serta menjaga keamanan.

Terlebih, lanjut dia, adalah tenaga kebersihan. Untuk setiap saat membersihkan kawasan terminal. “Sekarang Terminal tampak bersih dan toilet juga bersih. Sehingga membuat nyaman pengguna jasa angkutan selama berada di terminal,” terangya. (*)

Jamu Instan Buah Tangan PKK Desa Kapuan

KABARCEPU.ID – Di tangan PKK Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah, jamu instan berhasil diracik untuk dapat dikonsumsi terus menerus secara baik dan sehat.

Perasan sari empon-empon  ini, tanpa ampas dan memiliki rasa enak yang banyak disukai orang. Bahkan, buah tangan itu telah menembus pasar Kota Surabaya dan berhasil merubah kebiasaan peminum minuman keras beralih pada minuman hasil produksi PKK Kapuan.

Siti Hanifah, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Kapuan, menjelaskan, serbuk jamu instan hasil produksinya cukup menarik perhatian. Meskipun dalam prosesnya hanya menggunakan alat manual. Seperti parut dan wajan untuk menyeduh jamu. “Semua manual, tidak ada mesin sama sekali dalam pembuatanya,” kata dia.

Tidak berbeda dengan pembuatan jamu pada umumnya. Setelah bahan-bahan yang dibutuhkan dicuci bersih, kemudian diparut dan diperas untuk mengambil sarinya. Setelah itu, lanjutnya, sari dari perasan itu didiamkan sejenak supaya ampas mengendap. “Baru kemudian diseduh hingga mendidih, baru kemudian dicampur dengan gula pasir atau gula jawa sampai mengental dan mengkristal hingga menjadi serbuk,” terangya.

Kenapa dalam prosesnya menggunakan gula asli, kata dia, karena untuk mempermudah pengkristalan. “Jika menggukan pemanis buatan maka tidak mungkin bisa jadi,” terangnya. Bahan-bahan yang digunakan pun mudah ditemui dipasar. Seperti jahe, Kunyit, temu lawak, dan kencur. Dalam proses pembuatannya, wanita lulusan IAIN Walisongo Surabaya tahun 2003 ini.

Dari usahanya itu, ada beberapa produk yang berhasil dia pruduksi. Diantaranya, jamu kunyit asem instan, beras kencur instan, minuman jehe instan, serta temu lawak instan. “Semua telah mendapat rekomendasi dari petugas kesehatan dan dinyatakan aman dikonsumsi,” ujarnya.

Pasalnya, dalam proses produksinya didampingi pula dari petugas kesehatan Puskesmas setempat. Seteleh diamati, ternyata jamu tersebut tidak ada endapan ampas dan aman dikonsumsi secara terus menerus. “Karena ampas sendiri sebenarnya tidak baik untuk ginjal karena bersifat lengket,” ujarnya.

Selain tanpa ampas, lanjut dia, dibandingkan dengan jamu perasan lainnya adalah tidak memiliki bau menyengat. “Baunya lebih ringan dan lebih aman, jamu instan ini juga memiliki  keunggulan lebih cepat diserap oleh tubuh. Serbuknya lebih tahan lama hingga satu tahun jika disimpan dalam wadah dan ditutup rapat,” jelasnya saat ditemui di kediamannnya, beberapa waktu lalu.

Dirinya mengaku, dalam satu bulan bisa melakukan pengiriman sebanyak tiga kali ke Surabaya yang kemas dalam wadah plastik yang tertutup rapat ukuran 1 kg. “Untuk sementara memang baru memasarkan di Surabaya dan sebagian kecil di Malang. Karena memang dalam penjualan melalui saudara- saudara di sana,” ungkapnya.

Tidak disangka jika di Surabaya, banyak peminat jamu instan hasil olahannya, termasuk mantan penjual minuman keras. “Dulunya orang itu sempat menjual miras. Karena tertarik dengan minuman jahe buatan saya, akhirnya perlahan dia mulai meninggalkan penjualan miras. Bahkan, semula pelanggannya yang sukan minum miras, sekarang beralih ke minuman jahe. Katanya sih, kalau dicampur dengan kopi jadi lebih nikmat,” ujar wanita alumnus IAIN jurusan IPA ini.

Saat ditanya dari mana ide pembuatan jamu tersebut, dirinya mengaku awalnya hanya sebatas coba-coba saat masih berada di Malang bersama saudaranya sejak dirinya masih belum berkeluarga. “Saya dan kakak saya coba-coba bagaimana caranya minuman temu lawak bisa diminum tanpa ampas namun tidak menimbulkan bau menyengat. Ahirnya dari coba-coba itu berhasil,” jelasnya.

Baru pada bulan Mei 2016 lalu, saya beranikan diri untuk mencoba kembali pengalaman yang pernah saya lakukan.  Memang awalnya gagal, karena ketelatenannya dirinya berhasil menciptakan minuman jahe instan untuk pertama kali sejak sekian tahun yang lalu. (*)

Dari Kuli Ukir, Sekarang Jadi Pengusaha

KABARCEPU.ID – Berbekal keterampilan sebagai kuli ukir atau tukang ukir, Irsyad mampu mendirikan usaha sendiri.

Bahkan pria perantauan itu berhasil memberdayakan pemuda sekitar hingga ada yang menjadi seorang pengusaha.

Suara mesin pemotong kayu meraung-raung dari belakang sebuah rumah sederhana di Desa Kentong, Kecamatan Cepu.

Beberapa pekerja terlihat sibuk memotong kayu. Pekerja lainnya merangkai potongan kayu, menghaluskannya untuk kemudian mempelitur (cat pengilap) dan memanaskannya di bawah terik matahari.

Sepintas itulah aktifitas di rumah Muhammad Irsyad. Pria kelahiran Kabupaten Rembang, 34 tahun lalu, setiap harinya memproduksi rechal.

Rechal hasil produksi Irsyad telah menembus pasar di luar jawa dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Alhamdulillah, dapat pesanan lumayan banyak,” kata Irsyad membuka perbincangan beberapa waktu lalu.

Sebelum memproduksi rechal, Irsyad adalah seorang tukang ukir kayu di Jepara.

Selama puluhan tahun dirinya menjadi pekerja di salah satu pengusaha furniture di sana.

Namun siapa sangka, pada 2004 silam, perusahaannya mengalami masa krisis.

Berbekal keterampilan yang dimilikinya dari Jepara, Irsyad pun memutuskan untuk pindah bekerja sebagai kuli kayu ukir pada salah seorang pengusaha di Desa Kentong Kecamatan Cepu.

Di tempat inilah titik balik kehidupan Irsyad dimulai. Semangatnya dalam bekerja mendorongnya untuk tidak hanya ingin menjadi kuli.

Irsyad ingin mandiri mendirikan usaha dengan keterampilan yang dimiliki.

Dia pun melakukan survei pasar di sekitar Cepu. Dalam perjalannya, melalui penawaran dan lobi, akhirnya Irsyad mendapat pesanan dari Desa Bandar, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang terkenal dengan kerajinan handicraft berbahan kayu jati.

“Waktu itu saya mendapat pesanan awal mengerjakan kerajinan kaligrafi,” kenang Irsyad sambil tersenyum tipis.

Memasuki tahun 2005, Irsyad mulai memberanikan diri membuka usaha kerajinan.

Di sebuah rumah kontrakan di Desa Kentong, Irsad mulai memproduksi kerajinan handicraft untuk melayani pasar lokal.

Selama bertahun-tahun dia memanfaatkan kayu rencek (limbah hutan) yang biasa digunakan sebagai kayu bakar untuk memproduksi handicraft.

Sekira enam bulan melayani pasar lokal, Irsyad mulai mengenal konsumen dari luar Jawa.

Saat itulah, usahanya mulai berkembang dan sering melakukan pengiriman ke luar Jawa.

“Karena kewalahan, saya memanggil teman saya dari Jepara untuk membantu,” kata dia.

Berkembangnya usaha tersebut menjadikan warga sekitar kepincut. Mereka ingin belajar menjadi perajin kayu jati.

Irsyad dan kawannya dengan suka rela mengajarinya, dan akhirnya banyak warga sekitar yang sudah bisa.

“Setelah banyak pemuda yang menguasai, akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakai tenaga dari luar. Termasuk teman yang saya datangkan dari Jepara,” ucapnya.

Dari ketekunan dan keuletannya, Irsyad berhasil membeli rumah dan menetap di Desa Kentong untuk menjalankan usahanya.

Dia memperkerjakan 12 orang untuk membantu melayani pesanan. Namun seiring berjalanannya waktu peminat kerajinan kaligrafi mulai surut. Jumlah pekerjanya mulai berkurang.

Mereka ada yang memutuskan untuk bekerja di tempat lain, dan ada juga yang membuka usaha dengan keterampilan yang dimiliki.

Itu terbukti dari 10 orang perajin yang ada di Des Kentong sekarang ini sebagian diantaranya adalah mantan pekerja Irsyad.

“Saat ini ada 7 orang yang masih bekerja di sini. Yang lain keluar dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri,” kata Irsyad.

Sepinya peminat kali grafi ini membuat Irsyad harus membidik peluang lain. Dia pun kemudian mengutamakan membuat rechal.

Hasilnya, selama dua minggu sekali, dirinya minimal memproduksi hingga 500 biji untuk dikirim keluar Jawa maupun ke-kota lainnya.

Banyaknya permintaan membuat Irsyad kwalahan. Ia pun harus mengambil dari tempat lain untuk memenuhi pesanan.

Sejak 2 tahun ini, Irsyad mulai meninggalkan kayu rencek dan lebih memilih pesan dari perusahaan penggergajian kayu jati.

Itu dilakukan untuk mempercepat proses produksi, karena banyaknya pesanan yang harus diselesaikan.

“Tapi kadang saya masih memanfaatkan kayu rencek untuk menutupi kekurangan bahan baku,” pungkasnya.***

Informasi Kuliner, Wisata, Zodiak dan Gaya Hidup