KABARCEPU.ID – Isra dan Mi’raj (Isra Miraj) adalah dua peristiwa penting dalam sejarah Islam yang dikenang oleh umat Muslim di seluruh dunia.
Peristiwa ini merujuk pada perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dan kemudian kenaikan beliau dari langit ke langit (Mi’raj) sampai bertemu dengan Allah SWT.
Peristiwa Isra dan Mi’raj ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga kaya makna spiritual, sosial, dan hukum dalam kehidupan Muslim.
Sejarah Singkat Isra Miraj
Menurut sumber-sumber Islam mulai dari Al-Qur’an, hadits, dan riwayat para ulama, Isra Miraj terjadi pada tahun ke-10 Kenabian, ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan kuat dari kaum Quraisy di Mekah. Dalam Al-Qur’an, peristiwa Isra disebut secara singkat dalam Surah Al-Isra’ (17:1), yang menyebut perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Banyak riwayat hadits, terutama yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, memperinci pengalaman Mi’raj: Nabi bermalam di Baitul Maqdis, bertemu dengan para nabi terdahulu, kemudian naik melewati langit-langit bertemu para nabi seperti Adam, Isa, Musa, dan Ibrahim, hingga mencapai Sidratul Muntaha dan menerima perintah shalat lima waktu.
peristiwa ini terjadi di masa awal dakwah ketika ancaman dan tekanan fisik serta mental terhadap Nabi dan pengikutnya meningkat. Isra dan Mi’raj memberikan penguatan moral dan legitimasi spiritual kepada Nabi Muhammad SAW, serta tanda bahwa wahyu dan misi kenabian mendapat dukungan ilahiah.
Makna Spiritual dan Teologis Isra Miraj
- – Kekuatan wahyu: Peristiwa ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah dan terhubung langsung dengan sumber ilahi. Mi’raj menunjukkan bahwa komunikasi antara Allah dan utusan-Nya melampaui batas-batas duniawi.
- – Ketinggian spiritual: Kenaikan ke langit simbolik bagi tingkatan spiritual yang dapat dicapai melalui ketakwaan, kepatuhan, dan ketaatan kepada perintah Allah.
- – Penghormatan terhadap nabi-nabi sebelumnya: Dalam perjalanan Nabi bertemu nabi-nabi terdahulu, hal ini menegaskan kesinambungan risalah ilahiah dan persaudaraan antarpara nabi.
- – Penerapan ibadah: Perintah shalat lima waktu yang diwajibkan pada Mi’raj menegaskan peran shalat sebagai penghubung langsung antara hamba dan Pencipta—inti kehidupan spiritual Muslim.
Dimensi Sosial dan Hukum
Isra Miraj bukan sekadar pengalaman spiritual; ia berdampak nyata pada praktik sosial dan hukum dalam Islam:
- – Shalat lima waktu: Salah satu hasil paling praktis dari Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Ibadah ini menjadi pilar utama dalam kehidupan Muslim, membentuk ritme harian, kesadaran kolektif, dan disiplin spiritual.
- – Solidaritas umat: Peristiwa yang menguatkan identitas umat Muslim pada masa awal tersebut menumbuhkan rasa persatuan dan keberanian di tengah tekanan sosial dan politik.
- – Teladan keteguhan: Kisah ketabahan Nabi dalam menghadapi tekanan dan menerima tugas kenabian menjadi contoh moral bagi komunitas Muslim untuk tetap konsisten pada prinsip kebenaran.
Perayaan dan Tradisi
Peringatan Isra Miraj berbeda-beda di berbagai komunitas Muslim. Ada yang menjadikannya momen pengajian, ceramah, doa bersama, dan pembacaan sirah Nabi. Sementara sebagian komunitas menekankan aspek spiritual dan reflektif, yang lain menjalankan kegiatan sosial seperti sedekah dan pelayanan masyarakat.
Ada pula perdebatan di kalangan ulama mengenai status perayaan formal, apakah termasuk ibadah yang dianjurkan atau sekadar peringatan historis, namun mayoritas sepakat bahwa merenungkan makna peristiwa serta melaksanakan shalat dan kebaikan adalah langkah yang bermanfaat.
Refleksi Kontemporer
Dalam konteks era modern, Isra Miraj relevan sebagai sumber inspirasi:
- – Pembaharuan spiritual: Peristiwa ini mengingatkan pentingnya menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan di tengah kesibukan dunia.
- – Keteguhan moral: Teladan Nabi menghadapi tekanan dan tetap teguh pada kebenaran relevan bagi mereka yang menghadapi tantangan etika di berbagai bidang.
- – Persatuan lintas agama: Karena Masjidil Aqsa juga memiliki nilai bagi Yahudi dan Kristen, kisah perjalanan ke Baitul Maqdis dapat menjadi titik refleksi untuk dialog antaragama dan pemahaman bersama atas warisan spiritual kawasan tersebut.
Isra dan Mi’raj adalah peristiwa yang sarat makna, sejarahnya menguatkan legitimasi kenabian, makna spiritualnya mengundang penghayatan dan ketaatan, serta dampaknya membentuk praktik ibadah dan solidaritas sosial.
Merenungkan peristiwa ini mengajak setiap Muslim untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan, meneladani keteguhan moral Nabi Muhammad SAW, dan memperkokoh nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.***














