Arsip Kategori: Ngawi

Menemukan Jejak Manusia Purba di Museum Trinil Ngawi

KABARCEPU.ID – Museum Trinil Ngawi, nama yang mungkin asing bagi sebagian orang, namun menyimpan arti penting dalam sejarah penemuan manusia purba.

Terletak di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Trinil adalah kawasan yang menjadi saksi bisu keberadaan manusia purba di masa lampau.

Trinil meliputi tiga desa, yaitu Kawu, Gemarang, dan Ngancar, yang terletak di lekukan Sungai Bengawan Solo.

Menjadi pusat penelitian oleh Eugene Dubois, seorang ahli paleontologi Belanda, yang mengantarkannya pada penemuan penting di Trinlil, yaitu Pithecantropus erectus.

Nama Trinil sendiri berasal dari gabungan kata “tri” yang berarti tiga (menunjukkan tiga desa obyek penelitian) dan “nil” yang menggambarkan kemiripan Sungai Bengawan Solo dengan Sungai Nil.

Kisahnya tak lepas dari peran Eugene Dubois, seorang ilmuwan yang terinspirasi oleh teori evolusi Charles Darwin.

Sejak kecil, Dubois sudah menunjukkan ketertarikan pada ilmu tentang masa lalu, seringkali menggali tanah di pekarangan rumahnya untuk mencari fosil dan batu.

Setelah lulus dari sekolah kedokteran, Dubois bertekad mencari “missing link” dalam teori Darwin di daerah tropis, yang ia yakini belum terjamah oleh es zaman es.

Namun, perjalanan menuju penemuannya tak mudah. Dubois harus menjalani wajib militer terlebih dahulu sebelum dapat bekerja di Hindia Belanda.

Setelah bertugas di Sumatera dan tidak menemukan fosil yang dicari, ia kemudian beralih ke Jawa, terdorong oleh penemuan Manusia Wajak di Tulungagung.

Trinil, Titik Temu Evolusi dan Sejarah

Di Jawa, Dubois tertarik pada endapan Sungai Bengawan Solo, yang menurutnya menyimpan catatan kehidupan selama jutaan tahun.

Pada tahun 1891, di Trinil, ia menemukan atap tengkorak dan gigi manusia purba yang mirip kera.

Setahun kemudian, ia menemukan tulang paha dari individu yang sama. Temuan ini kemudian diberi nama, Pithecantropus erectus. Yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak”.

Penemuan Pithecantropus erectus menjadi bukti kuat untuk teori evolusi Darwin, sekaligus menjadi titik penting dalam sejarah penemuan manusia purba.

Fosil ini masuk dalam genus Homo erectus yang muncul pertama kali di Afrika dan menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Jawa, hingga akhirnya punah sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Wirobalung, Penjaga Harta Karun

Kisah Trinil tak hanya tentang Eugene Dubois, tapi juga tentang seorang pribumi bernama Wirodiharjo, yang tertarik dengan aktivitas ekskavasi Dubois.

Ia mulai mengumpulkan fosil yang ditemukan di tepi Sungai Bengawan Solo, hingga akhirnya rumahnya dipenuhi dengan koleksi fosil.

Wirodiharjo kemudian dikenal dengan nama “Wirobalung” karena dedikasinya dalam mengumpulkan “balung buto” atau fosil manusia purba.

Museum Trinil, Menyimpan Jejak Masa Lampau

Untuk mengenang penemuan Pithecantropus erectus dan menghormati koleksi Wirodiharjo, dibangunlah Museum Trinil pada tahun 1991.

Museum ini terletak di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, tepat di tepi Sungai Bengawan Solo, di bekas rumah Wirodiharjo.

Museum Trinil menyimpan beragam koleksi fosil, termasuk tengkorak manusia purba, gajah purba, dan peralatan yang digunakan di masa manusia purba.

Di museum ini, pengunjung dapat melihat replika Pithecantropus erectus, fosil dari Afrika (Australopithecus Africanus), dan Jerman (Homo Neanderthalensis), serta berbagai koleksi fosil lain yang memberikan gambaran tentang kehidupan manusia purba di masa lampau.

Warisan Berharga untuk Generasi Masa Depan

Trinil, dengan segala ceritanya, menjadi bukti penting tentang sejarah evolusi manusia.

Museum Trinil menjadi tempat pelestarian dan edukasi bagi masyarakat tentang kehidupan manusia purba dan pentingnya penelitian tentang evolusi.

Dengan mengunjungi museum ini, kita dapat merenungkan perjalanan panjang manusia di bumi dan menghargai warisan sejarah yang tak ternilai harganya. ***

Bukan Malang dan Surabaya, 11 Wisata di Ngawi INI Menyimpan Sejarah dan Menawarkan Keindahan

KABARCEPU.ID – Jawa Timur terkenal dengan wisata populernya di Malang dan Surabaya, sementara wisata di Ngawi masih kalah pamornya dan dua wilayah tersebut.

Malang dan Surabanya terdapat wisata yang tengah populer di kalangan masyarakat, sementara Ngawi belum seramai kedua kota itu.

Namun, Kabupaten Ngawi dibanding Malang dan Surabaya, menyimpan banyak sekali keindahan alam dan wisata bernilai sejarah.

Di juluki Kota Bambu, Ngawi menawarkan berbagai destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Mulai dari air terjun yang menyegarkan, kebun teh yang asri, bukit dengan pemandangan indah, hingga taman wisata yang seru.

Bagi pecinta sejarah, Ngawi juga memiliki beberapa tempat bersejarah yang patut dikunjungi untuk mengenang perjuangan para pahlawan dan pendahulu.

Berikut beberapa rekomendasi tempat wisata di Ngawi yang wajib kamu kunjungi dikutip dari tokpedia:

1. Kebun Teh Jamus

Luangkan waktu untuk menikmati keindahan alam di Kebun Teh Jamus yang luasnya mencapai 478
hektar.

Harga tiket masuk: Rp8.000

Jangan lupa untuk mengunjungi kolam renang dengan sumber mata air alami dan Borobudur Hills yang tak jauh dari lokasi.

2. Air Terjun Srambang

Rasakan kesejukan air terjun Srambang yang dikelilingi oleh hutan yang indah.

Harga tiket masuk: Rp5.000

Berbagai spot foto menarik, seperti patung wanita berwarna keemasan, balon warna-warni, dan tangga berkelok-kelok, menanti untuk
diabadikan. Pengunjung juga bisa berenang di sekitar air terjun.

3. Benteng Van Den Bosch

Jelajahi Benteng Van Den Bosch yang kokoh dan penuh sejarah, saksi bisu pertemuan Bengawan Madiun dan Bengawan Solo.

Harga tiket masuk: Rp5.000

Bentuk benteng yang eksotis menjadikannya spot foto yang instagramable.

4. Air Terjun Pengantin

Air Terjun Pengantin, air terjun yang terkenal karena pernah menjadi lokasi film horor dengan nama yang sama.

Harga tiket masuk: Rp7.000

Nikmati keindahan air terjun setinggi 12 meter dengan udara yang sejuk dan asri.

5. Museum Trinil

Kunjungi Museum Trinil Ngawi untuk melihat koleksi penemuan fosil zaman dahulu yang masih terjaga rapi.

Harga tiket masuk: Rp3.000

Saksikan temuan Phitecantropus Erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois.

6. Srambang Park

Temukan kedamaian di Srambang Park, sebuah hutan pinus yang indah dengan tanaman hias yang menawan.

Harga tiket masuk: Rp20.000

Nikmati air terjun yang menyegarkan dan legenda Jaka Tarub yang erat kaitannya dengan tempat ini.

7. Air Terjun Suwono

Bagi yang mencari ketenangan, Air Terjun Suwono adalah pilihan tepat. Air terjun ini masih sepi dan asri.

Harga tiket masuk: Rp3.000

8. Bukit Kerek Indah

Dapatkan pemandangan Ngawi yang menakjubkan dari atas Bukit Kerek Indah.

Spot foto menarik seperti jembatan kayu dan quotes lucu, serta pemandangan Sungai Bengawan Solo yang indah, menanti untuk dinikmati.

9. Wisata Watu Jonggol

Lihatlah patung naga raksasa yang tersimpan di atas kaki Gunung Lawu di Wisata Watu Jonggol.

Berenanglah di kolam renang dengan mata air alami yang menyegarkan.

Harga tiket masuk: Rp4.000

10. Ngawi Agro Techno Park

Jelajahi taman unik dengan jembatan kayu di Ngawi Agro Techno Park.

Nikmati pemandangan Gunung Lawu dan aliran sungai yang indah.

Harga tiket masuk: Rp5.000

11. Palereman Alas Ketonggo Srigati

Kunjungi Palereman Alas Ketonggo Srigati, pesanggrahan Raja Brawijaya yang penuh nilai mistis.

Lokasi ini memiliki nilai sejarah yang cukup besar tentang daerah Ngawi.***

Jejak Sejarah Ngawi, Dari Bambu hingga hingga Benteng Belanda

KABARCEPU.ID – Ngawi, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang menyimpan pesona sejarah dan budaya yang kaya.

Di balik pesona alamnya yang memukau, Ngawi menyimpan sejarah panjang yang tak kalah menarik.

Dari hutan bambu lebat yang menjadi asal mulanya, hingga benteng Belanda yang kokoh, Ngawi menawarkan perjalanan menyusuri jejak masa lampau yang penuh makna.

Namanya sendiri berasal dari kata “AWI”, yang berarti bambu, melambangkan kekayaan alam yang melimpah di wilayah ini.

Dahulu, daerah sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Madiun ini memang terkenal dengan hutan bambu yang lebat

Ngawi, sebuah nama yang erat kaitannya dengan bambu. Asal-usul nama kota ini berasal dari kata “AWI” yang berarti bambu, dengan penambahan huruf sengau “Ng” menjadi “NGAWI”.

Nama ini merefleksikan karakteristik geografis Ngawi yang berada di sekitar aliran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, wilayah yang di masa lampau banyak ditumbuhi bambu.

Lebih dari sekadar sebutan, Ngawi menyimpan jejak sejarah yang kaya. Lokasi-lokasi bersejarah seperti Jagaraga, Alas Ketangga, dan Tawun, yang diperkirakan terletak di sekitar Ngawi, menambah warna pada kisah kota ini.

Jejak kolonialisme Belanda juga tampak nyata di Ngawi, berupa benteng Van de Bosch yang dibangun pada tahun 1839-1845.

Benteng ini dibangun di persimpangan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, merefleksikan posisi strategis Ngawi sebagai pusat transportasi di masa lalu.

Kota ini menjadi penghubung penting antara Madiun-Rembang, Surakarta-Madiun-Gersik, dan Surabaya.

Perjalanan Ngawi menelusuri jejak waktu terdokumentasikan dengan penetapan Hari Jadinya.

Melalui SK Bupati KDH Tk. II Ngawi Nomor Sek. 13/7/Drh, tanggal 27 Oktober 1975 dan nomor Sek 13/3/Drh, tanggal 21 April 1976, Ngawi resmi menetapkan tahun 1975 sebagai tahun bersejarah.

Proses penetapan ini bukanlah hal mudah. Melalui penelitian yang diketuai oleh DPRD Kabupaten Dati II Ngawi, banyak kendala yang dihadapi, terutama dalam hal sumber informasi dan tokoh masyarakat.

Namun, melalui penelusuran sejarah, peninggalan purbakala, dan dokumen kuno, DPRD berhasil menetapkan tanggal 7 Juli 1358 sebagai Hari Jadi Ngawi, yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan nomor : 188.70/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 dan Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Ngawi No. 04 Tahun 1987 pada tanggal 14 Januari 1987.

Penetapan Hari Jadi Ngawi ini bukan titik akhir dari penelusuran sejarah. Masyarakat Ngawi dan para peneliti diharapkan dapat terus melakukan penelusuran lebih lanjut dan menerima masukan untuk menyempurnakan pemahaman tentang sejarah Ngawi yang kaya dan penuh makna.***

Wisata Srambang Park Ngawi, Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Lawu

KABARCEPU.ID – Bagi para pecinta alam dan petualang, Srambang Park Ngawi, Jawa Timur, adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan.

Di Srambang Park Ngawi, Anda akan disuguhkan keindahan alam yang memukau dan berbagai fasilitas menarik dengan harga tiket masuk yang terjangkau, yaitu Rp20.000 per orang.

Akses Mudah dan Nyaman di Srambang Park Ngawi

Bagi pengendara motor, kemudahan akses sudah dirasakan sejak awal karena area parkir tersedia hingga pintu masuk.

Namun, bagi pengunjung yang membawa mobil, jarak antara area parkir dan pintu masuk memang sedikit jauh.

Hal ini dapat diatasi dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek motor resmi dengan tarif yang sudah ditetapkan.

Perjalanan Menyenangkan Menuju Air Terjun

Perjalanan dari pintu masuk menuju air terjun memakan waktu sekitar 15-30 menit. Treknya pun terawat dengan baik dan mudah dilalui.

Di sepanjang perjalanan, Anda akan dimanjakan dengan panorama alam yang indah.

Gazebo-gazebo yang disediakan di sepanjang jalan menjadi tempat istirahat yang sempurna, dan warung makan pun siap memanjakan lidah Anda dengan berbagai hidangan lezat.

Lebih dari Sekadar Air Terjun

Srambang Park tak hanya menawarkan keindahan air terjunnya.

Pengunjung juga dapat bermain air di sungai-sungai kecil atau berenang di kolam renang yang khusus disediakan untuk anak-anak.

Suasana di sini sangatlah nyaman dengan hawa sejuk yang menyegarkan, membuat pengalaman wisata Anda semakin berkesan.

Keamanan dan Kenyamanan Terjamin

Perlu diingat bahwa demi menjaga keamanan pengunjung, area di bawah air terjun tidak diperbolehkan untuk mandi atau berenang.

Hal ini menjadi bukti komitmen Srambang Park dalam memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi para pengunjungnya.

Srambang Park merupakan destinasi wisata yang ideal bagi para pecinta alam yang ingin menikmati keindahan alam dengan kenyamanan dan keamanan yang terjamin.

Keindahan alam, berbagai fasilitas menarik, dan akses yang mudah menjadikan Srambang Park sebagai tempat wisata yang wajib dikunjungi.***

Wisata yang Memesona INI Bisa Ditempuh Selama 1 Jam dari Exit Tol Ngawi

KABARCEPU.ID – Bagi para wisatawan yang berencana mengunjungi Srambang, perjalanan dari exit tol Ngawi menuju destinasi ini memakan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam.

Meskipun perjalanan bisa terasa sedikit panjang dari exit tol Ngawi menuju Srambang, setibanya di lokasi parkir, pengunjung akan disambut dengan pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Setelah perjalanan panjang dari exit tol Ngawi lalu memarkir kendaraan, perjalanan selanjutnya menuju loket pendaftaran.

Membutuhkan jasa ojek dengan tarif yang cukup terjangkau, hanya Rp5000 per orang atau cukup dengaan jalan kaki.

Setelah sampai di loket, pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang.

Dari loket, perjalanan menuju lokasi air terjun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 600 meter.

Meskipun bisa terasa sedikit melelahkan, namun semua kelelahan akan terbayar lunas dengan keindahan alam yang memukau yang disuguhkan di sepanjang perjalanan.

Keberadaan air terjun di Srambang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

Dikelilingi oleh pepohonan hijau yang rindang dan suasana alam yang masih terjaga keasliannya, membuat pengunjung dapat merasakan kedamaian dan keindahan alam yang jarang ditemui di tempat lain.

Dengan demikian, meskipun perjalanan dari exit tol Ngawi membutuhkan waktu, pengalaman wisata yang diberikan oleh Srambang sangatlah memuaskan.

Semua kelelahan akan terbayar lunas dengan keindahan alam yang menakjubkan dan pengalaman petualangan yang tak terlupakan.***

Rekomendasi Wisata Ngawi, Menikmati Keindahan Alam di Srambang

KABARCEPU.ID – Bagi para pecinta alam dan petualangan, Srambang sebagai salah satu destinasi wisata Ngawi, Jawa Timur, patut dipertimbangkan.

Dari tempat parkir mobil, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alam di Srambang Kabupaten Ngawi, yang memesona hanya dengan berjalan sekitar 300-400 meter menuju loket wisata.

Bagi yang tidak ingin lelah berwisata di Srambang Kabupaten Ngawi, tersedia layanan ojek yang siap mengantar langsung hingga ke loket dengan harga yang cukup terjangkau, hanya dengan membayar Rp5.000 saja.

Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor, tidak perlu khawatir karena lokasi parkirnya cukup dekat dengan loket, memudahkan akses masuk dan keluar.

Perjalanan dari loket menuju air terjun sekitar 500 meter, tetapi jangan khawatir karena sepanjang perjalanan terdapat berbagai fasilitas seperti gazebo, tempat makan dan minum, serta spot foto yang menarik.

Hal ini memungkinkan pengunjung untuk beristirahat atau sekadar menikmati jajanan lokal sebelum melanjutkan perjalanan.

Pemandangan di sepanjang kanan dan kiri jalan sudah tertata rapi dan bersih, bahkan daun-daun yang jatuh pun diurus dengan baik oleh petugasnya.

Selain air terjun, Srambang juga menawarkan kolam renang sebagai alternatif rekreasi.

Meskipun belum sempat dikunjungi, kolam renang ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menyegarkan diri setelah menikmati keindahan alam sekitar.

Dengan demikian, Srambang menjadi pilihan yang menarik bagi para pencinta alam yang ingin menikmati keindahan alam sambil berpetualang.

Semoga ulasan ini dapat membantu para wisatawan dalam merencanakan perjalanan mereka. ***

5 Tempat Wisata Ngawi yang Bikin Kamu Tercengang

KABARCEPU.ID – Kabupaten Ngawi, yang dijuluki Kota Bambu yang Menawan, menawarkan berbagai destinasi wisata Ngawi yang indah dan wajib dikunjungi.

Bagi pecinta alam, Ngawi menghadirkan wisata air terjun, kebun teh, bukit, dan taman wisata yang memanjakan mata.

Jelajahi Air Terjun Srambang dengan pesonanya yang memukau, nikmati ketenangan di Srambang Park dengan hutan pinusnya yang menawan, atau rasakan sensasi petualangan di Wisata Watu Jonggol dengan patung naga dan kolam renang alami.

Bagi pencinta sejarah, Ngawi memiliki Museum Trinil yang menyimpan koleksi fosil zaman dahulu, termasuk Phitecantropus Erectus.

Temukan pula Benteng Van den Bosch, saksi bisu perjuangan bangsa, dengan arsitekturnya yang eksotis.

Ngawi tak hanya memanjakan orang dewasa, tapi juga anak-anak. Taman Rekreasi Tawun dan Telaga Sarangan menawarkan keceriaan dan wahana seru untuk keluarga.

Dikutip dari tokopedia, berikut beberapa rekomendasi tempat wisata Ngawi yang bisa menjadi pilihan:

1. Air Terjun Srambang

Terletak di Hutan Jogorogo, Air Terjun Srambang menawarkan keindahan alam yang luar biasa.

Tiket masuknya hanya Rp5.000, dan kamu akan disuguhkan dengan spot foto menarik, seperti patung wanita berwarna keemasan, balon warna-warni, dan tangga yang berkelok-kelok.

2. Srambang Park

Srambang Park merupakan taman wisata yang terletak di dekat Air Terjun Srambang.

Tiket masuknya Rp20.000, dan kamu akan disuguhkan dengan hutan pinus yang indah, tanaman hias, dan air terjun yang menyegarkan.

Tempat ini juga erat kaitannya dengan legenda Jaka Tarub.

3. Wisata Watu Jonggol

Wisata Watu Jonggol menawarkan pemandangan alam yang unik dengan patung naga di atas kaki Gunung Lawu.

Tempat ini juga memiliki batu besar yang sebagiannya tertutup tanah dan kolam renang dengan mata air alami. Tiket masuknya Rp5.000.

4. Museum Trinil

Museum Trinil adalah tempat yang tepat untuk mempelajari sejarah dan budaya Jawa Timur.

Tiket masuknya hanya Rp3.000, dan kamu bisa melihat koleksi fosil-fosil zaman dahulu, termasuk Phitecantropus Erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois.

5. Air Terjun Pengantin

Air Terjun Pengantin terkenal karena pernah menjadi lokasi syuting film horor dengan judul yang sama.

Air terjun ini memiliki ketinggian 12 meter dan menawarkan keindahan alam yang memesona. Tiket masuknya Rp7.000.

6. Benteng Van den Bosch

Benteng Van den Bosch merupakan peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh di Ngawi.

Benteng ini memiliki tembok yang usang dan bentuk yang eksotis, menjadikannya spot foto yang menarik. Tiket masuknya hanya Rp5.000.***

Menelusuri Keunikan Benteng Van Den Bosch di Ngawi Jawa Timur

KABARCEPU.ID – Benteng Van den Bosch di Ngawi Jawa Timur, adalah peninggalan bersejarah dari era penjajahan Belanda.

Benteng Van Den Bosch di Ngawi Jawa Timur, bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga menyimpan jejak-jejak perjuangan dan konflik pada masa lalu.

Kunjungan ke Benteng Van Den Bosch di Ngawi Jawa Timur memberikan pengalaman mendalam tentang sejarah Indonesia yang patut untuk dijelajahi.

Saat ini sedang dipugar oleh Kementerian PUPR untuk memastikan kelestariannya.

Dibangun pada abad ke-19, benteng ini memiliki beberapa keunikan yang menarik untuk diketahui.

Berikut 5 keunikan Benteng Van Den Bosch di Ngawi Jawa Timur:

1. Nama dari Jenderal Belanda

Benteng ini dinamai sesuai dengan Jenderal Belanda, Johannes van den Bosch, yang memimpin pembangunannya.

Selain sebagai pusat pertahanan, benteng ini juga menjadi markas untuk menyusun strategi Belanda.

Johannes Van den Bosch dikenal sebagai pemikir di balik sistem tanam paksa di Indonesia.

2. Saksi Sejarah Perlawanan Pangeran Diponegoro

Sebagai salah satu benteng yang dibangun oleh Belanda pada masa perlawanan Pangeran Diponegoro, Van Den Bosch menjadi saksi bisu perjuangan melawan penjajah.

Pangeran Diponegoro menentang usaha Belanda menguasai Ngawi, yang merupakan pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur.

3. Sumur sebagai Kuburan Massal

Di sebelah selatan benteng, terdapat dua sumur yang konon digunakan sebagai kuburan massal.

Dipercayai bahwa Belanda menggunakan sumur ini untuk membuang jenazah korban tahanan dan pekerja rodi pada masa itu, dengan kedalaman mencapai 100-200 meter.

4. Pernah Dibom Tentara Jepang

Selama Perang Dunia II pada tahun 1942-1943, benteng ini menjadi sasaran serangan dan bom dari tentara Jepang.

Akibatnya, sebagian bangunan mengalami kerusakan yang masih terlihat hingga kini. Bagian yang terkena bom dibiarkan dengan semak-semak, menjadi saksi bisu peristiwa kelam masa penjajahan.

5. Makam K.H. Muhammad Nursalim

Benteng ini juga menyimpan makam K.H. Muhammad Nursalim, seorang utusan setia Pangeran Diponegoro yang mengajarkan Islam dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda.

Dikenal memiliki kekebalan terhadap peluru dan senjata, kisah perlawanan Kiai Haji Muhammad Nursalim menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah benteng ini.***