KABARCEPU.ID – Di banyak daerah di Indonesia, pasar adalah jantung kebudayaan yang memompa denyut nadi sosial masyarakatnya yang mencerminkan kerukunan dan kebersamaan, bukan sekadar tempat terjadinya transaksi ekonomi antara penjual dan pembeli.
Salah satu manifestasi nyata dari pelestarian budaya tersebut adalah tradisi “Bancakan Pasar” di Pasar Mulyorejo Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang dihelat pada Jumat, 12 Juni 2026, dimulai sekira pukul 09.00 WIB.
Melalui tradisi “Bancakan Pasar” atau Selamatan Pasar, masyarakat Mulyorejo, khususnya Pasar Mulyorejo Cepu, membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus menggerus kearifan lokal.
Tradisi Bancakan di Pasar Mulyorejo Cepu bukan sekadar ritual seremonial. Bagi para pedagang dan warga sekitar, ini adalah bentuk kolektif rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rezeki dan keselamatan yang diberikan selama beraktivitas di pasar.
Dalam filosofi Jawa, pasar dianggap sebagai tempat bertemunya berbagai energi dan kepentingan. Oleh karena itu, ritual selamatan ini dilakukan sebagai upaya “mengharmonisasikan” lingkungan kerja. Harapannya, dengan doa bersama, arus rezeki senantiasa lancar, pedagang dijauhkan dari marabahaya, dan keberkahan menyelimuti setiap transaksi yang terjadi di bawah atap pasar tersebut.

Kepala Desa Mulyorejo, Sugiyono, dalam sambutannya mengemukakan, dengan adanya syukuran “Bancakan Pasar” ini, langkah ke depan para pedagang pasar Mulyorejo diharapkan semakin dimudahkan dalam mencari dan meraih rezeki.
“Bersainglah dengan sehat, mari kita tanam yang terbaik supaya kita mendapatkan rezeki yang terbaik. Rugi adalah hal wajar, karena hidup itu adalah pertarungan,” katanya.
Ia juga meminta agar pedagang menjaga kerukunan dan keharmonisan antarsesama pedagang dan juga dengan pengurus pasar. Tidak lupa, ia juga berpesan agar para pedagang menjaga kebersihan pasar yang menjadi tanggung jawab bersama.
Salah satu daya tarik utama dari perayaan tradisi di Pasar Mulyorejo adalah kehadiran beragam panganan tradisional yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Saat gelaran selamatan, pasar ini seolah menjadi “tumpah ruah” dengan aneka warna jajanan khas pasar.
Acara digelar dengan sederhana namun penuh kemeriahan. Pedagang berkumpul dan berdoa bersama di halaman pasar. Puncaknya, jajanan Bancakan Pasar yang digelar secara acak menjadi rebutan masyarakat dan pedagang sekitar sebagai simbolis kemeriahan tradisi.

Mbah Jini (72 tahun), salah satu pedagang kembang yang berjualan di seputaran halaman depan Pasar Mulyoyorejo mengatakan, tradisi “Bancakan Pasar” diadakan setiap tahun, sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan kelancaran rezeki yang diberikan melalui pasar.
“Wis taonan. Kawit pasar jek lawas, tekan pasar anyar iki, bancakan gak tau kelewat (sudah bertahun-tahun digelar. Dari bentuk pasar yang masih tradisional hingga pasar semi modern, tradisi selamatan tidak pernah dilewatkan),” ucap Mbah Jini.
“Ora mung jajanan tok. Sego berkat yo onok sing nggowo nggo bancakan pasar. (Tidak hanya jajanan atau camilan pasar, beberapa pedagang juga membawa nasi berkat untuk perayaan selamatan pasar),” imbuhnya.
Di tengah gempuran ritel modern dan belanja daring, keberlanjutan tradisi Bancakan Pasar di Pasar Rakyat Mulyorejo Cepu memiliki pesan moral yang kuat. Tradisi ini menunjukkan bahwa pasar rakyat memiliki “jiwa” yang tidak dimiliki oleh mal atau platform digital. Ada interaksi personal, ada doa yang dipanjatkan bersama, dan ada rasa memiliki terhadap ruang publik tersebut.
Pemerintah Desa Mulyorejo dan komunitas pedagang terus bersinergi agar Pasar Mulyorejo Cepu tetap bersih dan nyaman tanpa menghilangkan sisi kearifannya. Dengan mempertahankan ritual seperti Bancakan, pasar ini tetap menjadi destinasi wisata religi dan kuliner yang unik bagi wisatawan yang ingin merasakan kehangatan keramahan masyarakat Cepu.
Pasar Rakyat Mulyorejo Cepu adalah bukti nyata bahwa rasa syukur adalah kunci keberlanjutan. Melalui deretan jajan pasar yang memikat dan ritual Bancakan yang sarat makna, kita diingatkan bahwa rezeki bukan hanya soal angka, melainkan tentang keberkahan dan kebersamaan.***





