KABARCEPU.ID – Seiring dengan tren kenaikan harga material plastik yang kian signifikan serta meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, produk anyaman tradisional berupa besek bambu hasil karya para pengrajin di Kabupaten Blora, Jawa Tengah kini mengalami lonjakan permintaan yang sangat pesat.
Fenomena peralihan preferensi konsumen dari kantong plastik sekali pakai ke wadah organik ini tidak hanya menjadi solusi ekologis dalam mereduksi limbah non-organik, tetapi juga memberikan stimulus ekonomi yang luar biasa bagi sektor UMKM di pelosok daerah, terutama di Blora.
Terlebih, menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, permintaan besek tradisional untuk wadah daging kurban melonjak tajam hingga membuat para pengrajin anyaman bambu dan besek di Kabupaten Blora kewalahan memenuhi pesanan.
Salah satu perajin yang ketiban rezeki adalah Dian Agus Yulianto, pemilik usaha “Berkah Anyaman Bambu” di Desa Kedungsatrian, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Dian mengaku peningkatan pesanan sudah terasa sejak satu bulan sebelum hari raya. “Konsumen bahkan sudah memesan besek sejak sebulan lalu karena mereka khawatir tidak kebagian atau pesanan tidak sempat dibuatkan,” ujar Dian, di Blora, Minggu (24/5/2026).
Kualitas kerajinan tangan khas Blora yang dikenal rapi, kokoh, dan estetis telah berhasil memikat pasar skala nasional, terbukti dengan tingginya volume pengiriman yang kini menembus pasar ritel dan kuliner di wilayah metropolitan Jakarta.

Akibat lonjakan permintaan ini, Dian bersama istri dan puluhan tetangganya harus bekerja ekstra keras di rumah produksinya. Ia bahkan rutin mengirimkan ribuan besek pesanan ke wilayah Jakarta untuk keperluan distribusi daging kurban
Beruntung, bahan baku berupa bambu apus sangat melimpah dan mudah didapatkan di desa tempat tinggalnya maupun desa-desa sekitar..
Selain besek, rumah produksi “Berkah Anyaman Bambu” juga menghasilkan berbagai kerajinan tangan lain. Mulai dari hantaran, tempat parsel, hiasan lampu, hingga penutup makanan.
“Untuk harga, besek bambu buatan Dian dijual dengan harga yang sangat terjangkau dan bervariasi tergantung ukuran. Ukuran kecil Rp3.000 per biji. Ukuran besar Rp5.000 per biji,” jelasnya.
Dian berharap momentum mahalnya harga plastik ini bisa menjadi titik balik bagi masyarakat untuk beralih ke wadah yang lebih ekologis.
Menurutnya, penggunaan besek bambu atau bungkus alternatif seperti daun jati jauh lebih baik untuk menjaga kelestarian alam saat pembagian daging kurban nanti.
Keberhasilan besek bambu dalam mendominasi pasar ibu kota sebagai alternatif kemasan pangan yang higienis dan berkelanjutan menandai momentum kebangkitan kearifan lokal yang mampu beradaptasi dengan tuntutan ekonomi modern, sekaligus memposisikan para pengrajin Blora sebagai pilar penting dalam rantai pasok produk ramah lingkungan di Indonesia.***






