MATRA Blora Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya Adiluhung

KABARCEPU.ID – Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Blora (MATRA Blora) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan melestarikan budaya adiluhung yang menjadi warisan leluhur.
Hal tersebut disampaikan oleh narasumber dialog, KRAT Priyo Hadinagoro, dalam acara dialog interaktif yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026, di Sekretariat MATRA Blora.
KRAT Priyo Hadinagoro yang biasa disapa Mbah Priyo ini juga merupakan anggota Dewan Kehormatan Adat MATRA Blora, menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab besar untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Masyarakat Adat Nusantara akan terus berjuang agar budaya adiluhung tidak hilang oleh perkembangan zaman. Nilai-nilai kearifan lokal ini harus tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar pria asal Randublatung tersebut.
Mbah Priyo menjelaskan bahwa budaya adiluhung yang dimaksud salah satunya adalah tradisi Lebaran yang selama ini hidup di tengah masyarakat, seperti sungkem kepada orang tua serta ziarah ke makam leluhur. Menurutnya, tradisi tersebut sarat dengan makna penghormatan, kebersamaan, serta pengingat akan jasa para pendahulu.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap mempertahankan tradisi yang sarat makna tersebut. Meski demikian, pihaknya menyadari bahwa saat ini ada sebagian masyarakat yang menganggap tradisi sungkem sebagai sesuatu yang tabu.
Menanggapi hal tersebut, Mbah Priyo menegaskan bahwa sungkem justru sejalan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam, karena mengandung unsur penghormatan kepada orang tua serta permohonan maaf.
“Sungkem itu bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk menghormati orang tua dan saling memaafkan,” jelasnya.
Menurut Mbah Priyo, memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari merupakan tantangan bagi kita semua dalam menjaga tradisi. Ia menambahkan bahwa sungkem pada hakikatnya merupakan wujud penghormatan kepada orang tua maupun kepada orang yang lebih tua, sehingga nilai kesopanan dan tata krama tetap terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Dialog interaktif yang juga menghadirkan pemerhati budaya Kushariyadi tersebut menjadi ruang diskusi bagi para anggota dan pemerhati budaya untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di era modern, termasuk pengaruh globalisasi yang dikhawatirkan dapat menggerus tradisi lokal.
Pria yang juga menggeluti Tosan Aji ini berharap melalui kegiatan dialog seperti ini, kesadaran masyarakat untuk mencintai dan menjaga budaya bangsa semakin tumbuh, khususnya di kalangan generasi muda agar tidak melupakan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.*



