KABARCEPU.ID – Senin sore (19/01), ruang Dinporabudpar Blora menjadi tempat berlangsungnya obrolan santai namun bermakna tentang sejarah daerah. Suasana cair ini melahirkan gagasan segar soal pentingnya validasi data sejarah.
Obrolan tersebut dihadiri Gunawan Trihantoro (Satupena), Luhur Susilo (Matra), dan Setyo Pujiono dari DPK Blora. Mereka berbagi pandangan tentang perlunya data akurat sebagai pijakan menarasikan sejarah Blora.
Kabid Kebudayaan Dinporabudpar Blora, Widyarini Setyaningrum, menekankan pentingnya sumber otentik.
Menurutnya, data primer adalah fondasi agar cerita sejarah tidak melenceng dari fakta. “Sejarah itu dinamis, tergantung data yang kita miliki,” ujar Widyarini.
Namun ia menegaskan, bukti otentik tetap menjadi rujukan utama. Data valid tidak dipandang sebagai arsip mati. Ia justru menjadi bekal mengembangkan potensi sejarah dan budaya Blora secara berkelanjutan.
Gunawan Trihantoro menyebut sejarah perlu dihadirkan dengan dampak nyata. “Generasi Z butuh akar nilai agar tidak kehilangan arah,” katanya.
Obrolan juga menyentuh pentingnya menghidupkan nilai budaya melalui ruang publik. Kebudayaan Blora dipandang terus tumbuh dan relevan dengan zaman.
Di era digital, sejarah dinilai perlu disampaikan dengan pendekatan berbasis nilai. Cara ini lebih mudah diterima anak muda dibanding narasi yang kaku.
Setyo Pujiono menegaskan sejarah seharusnya mengajak dialog. “Bukan sekadar dihafal, tapi dijadikan pedoman hidup,” tuturnya.
Luhur Susilo menambahkan, budaya Blora sarat nilai universal. Di dalamnya ada pesan tentang nurani, keteguhan, kesabaran, dan toleransi.
Nilai-nilai tersebut dinilai tetap selaras dengan modernitas. Kearifan lokal justru menjadi penyangga kemajuan yang beretika.
Para peserta sepakat sejarah tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia perlu dihidupkan sebagai kompas moral, terutama bagi Generasi Z.
Melalui obrolan yang menyegarkan ini, sejarah Blora kembali dimaknai. Bukan sekadar ingatan, tetapi energi nilai untuk masa depan.













