KABARCEPU.ID – Festival kolaborasi lintas komunitas bertajuk Bolo Fest akan digelar pada 6 Desember di Gedung Bojonegoro Creative Hub.
Kegiatan ini menjadi ruang baru bagi komunitas kreatif Bojonegoro untuk menyuarakan isu kemandirian ekonomi pasca migas serta menggagas arah pembangunan berbasis kreativitas.
Festival ini diinisiasi oleh Komite Ekraf Bojonegoro, Bojonegoro History, Bojonegoro Creative Network, bersama puluhan komunitas kreatif lain.
Penyelenggaraan Bolo Fest juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif lokal.
Titik Awal Gagasan: Keresahan akan Minimnya Ruang Kolaborasi
Steering Committee Bolo Fest, Mochammad Alfianto, menjelaskan bahwa gagasan festival ini lahir dari keresahan para pegiat komunitas kreatif yang membutuhkan ruang bersama untuk berkolaborasi, bertukar ide, dan merancang masa depan Bojonegoro pasca ketergantungan terhadap industri migas.
“Bolo Fest bermula dari keresahan sesobat lintas komunitas yang merasakan tidak adanya wadah besar untuk berkolaborasi. Sekaligus sebagai upaya mengangkat isu ekonomi kreatif sebagai alternatif industri pasca migas yang harus mulai disiapkan dari sekarang,” ungkap Alfian.
Ruang Bertemunya Ide dan Gagasan
Sementara itu, Organizing Committee Bolo Fest, Andre dari komunitas Bojonegoro History, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya tempat berkumpul, melainkan arena bertemunya gagasan lintas bidang—mulai dari seni, Budaya, literasi, UMKM kreatif, hingga inovasi digital.
“Festival ini akan mempertemukan banyak ide dan gagasan dari berbagai komunitas. Harapannya, lahir kolaborasi baru yang bermanfaat untuk pengembangan kreativitas Bojonegoro,” jelasnya.
Mengapa Bolo Fest Penting?
Dalam konteks Bojonegoro yang selama puluhan tahun bergantung pada industri ekstraktif, Bolo Fest hadir sebagai dorongan bagi pengambil kebijakan untuk bersiap menghadapi perubahan struktur ekonomi daerah. Kreativitas dipandang sebagai energi baru yang mampu menjadi penggerak ekonomi masa depan.
Bolo Fest juga membawa filosofi “bolo”—yang berarti kawan atau sahabat—sebagai simbol kebersamaan dalam membangun arah baru Bojonegoro yang lebih mandiri, inovatif, dan bertumpu pada kapasitas sumber daya manusia.
Dengan penyelenggaraan Bolo Fest, komunitas kreatif Bojonegoro berharap mampu menunjukkan bahwa masa depan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, gotong royong, dan kekuatan gagasan masyarakatnya.***

